Macam Riba dalam Islam dan Hukumnya

Tidak diragukan lagi bahwa riba adalah haram hukumnya. Bahaya dan pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang pun sangat jelas yakni akan merusak mental, akhlak bahkan kualitas rezeki yang diperolehnya. Maka dari itu, tidak ada jalan lain untuk menghindari transaksi terlarang tersebut semaksimal mungkin.

Salah satu caranya adalah dengan lebih mengerti tentang ciri-cirinya, kriterianya, dan macam-macam riba—yang kesemua ini, secara tidak langsung akan mengantarkan pihak transaktor kepada kejelasan status suatu transaksi yang dijalaninya, yakni kejelasan antara halal dan haram; antara jual beli dan riba; antara utang dan menarik keuntungan di dalamnya secara membagi buta dan lain sebagainya. Jika demikian, lalu apa saja kah macam-macam Riba yang dimaksus itu?.

Dalam hukum fiqh sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqh seperti al-Fiqh al-Islam wa Adilatu, Majmu’ Lil Fatawa, Kifayah al-Akhyar dan lain sebagainya bahwa macam-macam Riba setida ada lima yakni sebagai berikut:

macam riba
source : google.com

1. Riba Fadl (Jual Beli)

Secara bahasa al-Fadh artinya lebih atau beda Derajat. Maka yang dimaksud dengan riba Fadl adalah riba yang muncul akibat adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi yang sejenis, namun berbeda kadar atau takarannya. Contoh: 20 kg beras kualitas bagus, ditukar dengan 30 kg beras kualitas menengah. Atau kain suteta 2 Padang di tuker dengan kan katun 10 lembar dan lain sebagainya. Berkaitan dengan ini, terhadap riwayat hadits yang mengukuhkan kategori riba Fadl tersebut.

Dari Abu Sa’id, ia berkata:” Datang Bilal ke Nabi saw dengan membawa kurma barni (kurma kualitas bagus) dan beliau bertanya kepadanya: ”Darimana engkau mendapatkannya? ”Bilal menjawab: ”Saya mempunyai kurma yang rendah mutunya dan menukarkannya dua sha’ dengan satu sha’ kurma barni untuk dimakan oleh Nabi saw..” Ketika itu Rasulullah saw bersabda: ”Hati-hati! Hati-hati! Ini aslinya riba, ini aslinya riba. Jangan kamu lakukan, bila engkau mau membeli kurma maka juallah terlebih dahulu kurmamu yang lain untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma barni!.”

Sebenarnya, barang Ribawi (baca: yang bisa terkena unsur riba) itu ada enam jenis: yakni 2 berupa mata uang (emas perak) dan empat berupa gandum, jawawut/sya’ir sejenis gandum (dan semua yang dikiaskan kepada ketiganya sebagai makanan pen.) dan garam. Hal ini didasarkan pada dalil;

Dari Abu Sa’id al Hudriyi dari Rasulullsh s.a.w. Beliau bersabda: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jawawut/gandum dengan jawawut/gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam semisal dengan semisal, kontan dengan kontan, maka barang siapa yang menambah atau minta tambahan sungguh dia telah melakukan riba, orang yang mengambil dan orang yang memberi di dalam riba itu sama saja.”

Jadi, setiap transaksi yang melibatkan dua objek materi, dimana kedua objek tersebut berbeda dalam kadarnya, kualitasnya, ukurannya bahkan jumlahnya. Artinya yang satu lebih rendah sementara yang satunya lebih tinggi dan semacamnya, maka transaksi ini termasuk bagian dari riba Fadl dan hukumnya tenntu terlarang.

2. Riba Nasi’ah

Yang dimaksud dengan Riba nasi’ah ini adalah riba yang muncul akibat adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi tidak sejenis yang dilakukan secara hutangan (tempo). Atau dengan kata lain terdapat penambahan nilai transaksi yang diakibatkan oleh perbedaan atau penangguhan waktu transaksi.

Riba nasi’ah dikenal dengan istilah riba jahiliyah karena berasal dari kebiasaan orang Arab jahiliyah, yaitu apabila memberi pinjaman lalu sudah jatuh tempo, berkata orang Arab: “mau dilunasi atau diperpanjang?”. Jika masa pinjaman diperpanjang modal dan tambahannya diribakan lagi. Dalam beberapa riwayat disebutkan:

“Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: sesungguhnya riba ada di dalam pinjaman(nasi’ah).”

“Dari Usamah bin Zaid, sesungguhnya Rasululah saw bersabda: ”Sesungguhnya riba ada di dalam pinjaman(nasi’ah).” (HR Ibnu Majah, Kitab at-Tijarat).

Dari Abi Minhal, ia berkata: Aku bertanya pada Baro’bin Azib dan Zaid bin Arqom tentang tukar menukar mata uang, maka masing-masing dari keduanya berkata: ”Ini lebih baik dariku ” dan masing-masing berkata: ”Rasulullah saw melarang menjual emas dengan perak secara hutang.”

Salah satu contoh bentuk riba nasi’ah ini adalah sebagaiman yang kita kenal dengan bunga atau penambahan nilai dan keunggulan pada bank-bank konvensional maupun pada utang-piutang yang ada penambahan “beban” karena telat membayar namun sudah jatuh Tempo.

Transaksi seperti ini sangat banyak kita temukan. Karena saking banyaknya hampir dianggap sudah lumrah dan biasa. Padahal, bahaya dan hukumnya sama persis dengan hukum riba itu sendiri yakni haram. Kenapa? karena di didalamnya ada unsur “kelebihan” dari jumlah awal yang tujuannya untuk mendapatkan keuntungan.

Disamping itu, transaksi ini juga bisa dibilang satu tindakan “pemerasan”, betapa tidak? utang awal yang jumlahnya 50.000 misalnya, namun harus dibayar menjadi 70.000 gara-gara telah jatuh Tempo namun belum membayar—sekalipun sebelumnya sudah ada kesepakatan dari dua pihak— . Karena itu lah, praktek riba dengan segala modelnya tetap dilarang dan semaksimal mungkin harus dijauhi dalam setiiap transaksi kita sehari-hari.

3. Riba Qard

Yang dimaksud dengan Riba Qardh adalah riba yang muncul akibat adanya tambahan atas pokok pinjaman yang dipersyaratkan di muka oleh kreditur atau shahibul maal kepada pihak yang berutang (debitur), yang diambil sebagai keuntungan. Contoh: pemilik harta memberikan pinjaman kepada debitur sebanyak 30 juta dengn suara si debitur tersebut wajib mengembalikan pinjaman itu dengan nominal 40 juta pada saat jatuh Tempo. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:

“Dari Usamah bin Zaid, sesungguhnya Rasululah saw bersabda: ”Sesungguhnya riba berada pada utang.” Abdillah berkata: yang dimaksud Nabi yaitu satu dirham (dibayar) dua dirham.”

Riba jenis ini juga sering terjadi dan sudah dianggap biasa ditengah-tengah kita. Rina ini agak sedikit sama dengan riba nasi’ah, yakni sama-sama terdapat pada utang-piutang atau pinjam-meminjam. Namun perbedaannya terletak pada kewajiban pembayaran tambahan nilainya; riba nasi’ah dibayar karena telat melunasi sementara sudah jatuh Tempo.

Adapun riba Qard terletak sudah di awal yakni sudah ada perjanjian dua pihak terhadap penambahan nilai jika ternyata si debitur telat membayar dan sudah jatuh Tempo. Riba yang ketiga ini, juga dihukumi haram dan satu kewajiban bagi kita untuk menolaknya dalam setiap transaksi usaha maupun jasa kita setiap hari.

4. Riba Jahiliyah

Yang dimaksud dengan riba jahiliah adalah Riba yang muncul akibat adanya tambahan persyaratan dari kreditur atau pemilik harta, di mana pihak debitur diharuskan membayar utang yang lebih dari pokoknya, karena ketidakmampuan atau kelalaiannya (default) dalam pembayaran saat utang telah jatuh tempo.

Riba ini juga sangat sering dipraktekkan di masyarakat. Sebagai contoh begini: seorang krebitur memiliki utang senilai Rp. 30 juta, jatuh tempo 1 Desember 207. Namun sampai dengan tanggal tersebut, debitur tidak bisa membayar. Sehingga pihak kreditur membuat syarat, jangka waktu pinjaman dapat diperpanjang, tetapi jumlah utang bertambah menjadi Rp. 40 juta. Praktek seperti ini sudah digambarkan oleh Nabi dalam haditnya yakni:

Dari Malik dari Zaid bin Aslam, ia berkata: Riba pada zaman jahiliyah yaitu bahwa ada seorang laki-laki, memiliki suatu kewajiban (utang) pada laki-laki (yang lain) untuk jangka waktu tertentu. Maka ketika telah jatuh tempo, yang memberikan pinjaman (kreditur) berkata: Apakah kamu mau membayar atau memberi tambahan (pembayaran). Maka ketika debitur membayar, kreditur menerima (pembayaran), dan jika tidak membayar, maka debitur menambah haknya kreditur, dan kreditur memperpanjang sampai waktu tertentu.”

Riba yang terakhir ini juga haram hukumnya. Karena ada unsur penambahan pada pada benda setelah jatuh tempo—yang kemudian penambahan itu dijadikan sebagai keuntungan sebagai akibat telat melunasi.

Demikian lah macam-macam riba, dan sekali lagi, semua ini hukumnya haram. Namun peringatan keharaman hukum riba tersebut, pada praktek di lapangan justru mskh diindahkan dan tidak dipedulikan. Yang penting untung, Untung dan untung. Tidak memperhatikan lagi membedakan mana urung mana tambahan nilai karena unsur riba. Oleh karena, sinergitas antara dua transaktor baik kreditur maupun debitur harus dimunculkan.

Nilai-nilai kesadaran, kejelian dan kehati-hatian harus dibangun sejsk dini ketika hendak melakukan setiap transaksi. Dan pihak konvensional, seperti bank misalnya, juga harus disetting ulang untuk memfilter tindakan-tindakan yang termasuk riba. Dan caranya adalah dengan tidak menawarkan bunga di setiap nasabah. Semuanya ini,tentu tidak lain sebagai harapan supaya bisa terhindar dari praktek haram seperti riba tersebut. Amin.

Baca juga : 30 Bahaya Riba dan Pengaruhnya, Jauhi Sebelum Terjadi

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan Anda!
Silahkan ketik nama Anda di sini