Mengenal Lebih Lanjut Jual Beli dalam Islam

0
9
jual beli dalam islam

Mengenal Jual beli dalam Islam – Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial atau tidak akan bisa terlepas dari kehidupan orang lain sosial manusia membutuhkan orang lain untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Dalam hal ini mengakibatkan terjadinya suatu interaksi seperti sebuah transaksi ekonomi yang dalam hal ini disebut dengan jual beli (perdagangan).

Di antara bentuk jual beli yang ada, ada juga yang diharamkan dan ada yang diperselisihkan hukumnya. Oleh karena itu, menjadi satu kewajiban bagi seorang usahawan muslim untuk mengenal hal-hal yang menentukan sah tidaknya usaha jual beli tersebut, dan mengenal mana jual-beli yang halal dan mana jual-beli yang haram dari kegiatan itu, sehingga benar-benar mengerti perso-alannya.

Dalam pembahasan ini kita akan mengenal persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah jual beli. Mari kita bahas bersama:

Apa Definisi Jual Beli?

Jual beli secara etimologis berartikan: Menukar harta dengan harta. Sedangkan secara terminologis berartikan: Transaksi tukar-menukar barang atau uang yang berakibat pada perpindahan hak milik barang atau uang. Prosesnya dilaksanakan dengan akad, baik secara perbuatan ataupun ucapan lisan.

Masing-masing pihak dalam transaksi ini disebut sebagai pembeli(beli) dan penjual(jual). Rasulullah rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa “Dua orang yang melakukan suatu jual dan beli, mereka mempunyai hak menentukan pilihan mereka, sebelum berpindah/ pergi dari lokasi jual beli.”

Dalam Fiqih Sunnah, jual-beli merupakan suatu kegiatan tukar-menukar harta (apapun bentuknya) yang dilakukan mau sama mau atau sukarela atau proses mengalihkan hak milik harta pada orang lain dengan kompensasi atau imbalan tertentu.

Menurut fiqh sunnah, ini boleh saja dilakukan asal masih dalam koridor syariat. Harta dan barang yang dijual-belikan adalah benda yang halal, bukan benda haram.

Aturan Jual Beli dalam Islam?

Dalam islam, aturan dalam jual beli disampaikan dalam ayat-ayat, hadist, dan berbagai pendapat ulama mengenai hal ini. Tentu saja aturan ini berdasarkan pada nilai dasar dari rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, serta Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia. Hal ini bisa dipahami dari beberapa dalil dibawah ini tentang jual beli dalam islam .

jual beli dalam islam
Sumber : www.google.co.id

Dalam Al Quran

Di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 275, menjelaskan bahwa Allah menghalalkan adanya Jual beli. Yang diharamkan oleh Allah adalah riba. Oleh karena itu, proses jual beli adalah suatu yang halal dan tidak dilarang. Sebagaimana dalam ayat berikut:

“Allah menghalalkan kegiatan jual beli serta mengharamkan riba..” (Al-Baqarah: 275).

Syariat islam tidak melarang jual beli karena memliki manfaat serta tujuan sosial yang ingin diraih. Manusia membutuhkan aspek ekonomi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila hal ini dilarang tentu saja manusia akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal banyak kebutuhan hidup manusia yang tidak bisa dipenuhi sendiri.

Dalam Sunnah Rasul

“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, memiliki berat yang sama dan langsung diserah-terimakan. Apabila berlainan jenis, maka jual lah sesuka kalian, tetapi harus secara langsung diserah-terimakan/ kontan” (HR. Muslim)

Dalil hadist di tersebut mensyariatkan bahwa proses jual beli adalah hal yang diperbolehkan. Begitupun dengan barang yang berbeda jenisnya hal ini diperbolehkan asalkan tidak merugikan salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi jual beli tersebut.

Kalsifikasi/ jenis-jenis jual beli dalam islam ?

Jual beli dalam islam di klasifikasikan menjadi beberapa bagian dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Diantaranya :

1. Jual Beli dari Sisi Objek Dagangan

Dari sisi objek dagangan jual beli dibagi menjadi tiga jenis:

Pertama, Jual beli umum. Yaitu menukar uang dengan barang;
Kedua, Jual beli ash-sharf atau Money Changer. Yaitu penukaran uang dengan uang;
Ketiga, Jual beli muqayadhah atau barter. Yaitu menukar barang dengan barang.

2. Klasifikasi Jual Beli dalam Cara Standarisasi Harga

a) Jual beli Bargainal (Tawar-menawar), yaitu jual beli di mana penjual tidak memberitahukan modal/ barang yang dijualnya.

b). Jual beli amanah, artinya jual beli di mana penjual memberitahukan harga/ modal jualannya. Jenis jual beli ini terbagi menjadi tiga jenis lain:

  • Jual beli murabahah, artinya jual beli dengan modal dan keuntungan yang diketahui;
  • Jual beli wadhi”ah, yaitu jual beli dengan harga di bawah modal dan jumlah kerugian yang diketahui.
  • Jual beli tauliyah, yaitu jual beli dengan menjual barang dengan harga sesuai modal, tanpa keuntungan dan kerugian.

c). Jual beli muzayadah atau sering disebut dengan kata lelang, adalah jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya, lalu para pembeli saling menawar dengan menaikan harga/ tawaran dari pembeli sebelumnya, lalu si penjual akan menjual dengan harga paling tinggi dari para pembeli.

Kebalikannya yaitu jual beli munaqadhah atau lebih sering kita kenal dengan kata obral, yaitu si pembeli membeli barang dengan kriteria tertentu, lalu para penjual berlomba menawarkan dagangannya, kemudian si pembeli akan membeli barang yang di tawarkan para penjual dengan harga ter-murah.

3. Pembagian Jual Beli Ditinjau dari Cara Pembayarannya.

Dari cara pembayarannya, jual beli terbagi menjadi empat bagian:

  • Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran langsung.
  • Jual beli dengan pembayaran yang tertunda.
  • Jual beli dengan penyerahan barang yang tertunda.
  • Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran yang sama-sama tertunda.

4. Terkait perbandingan harga jual dan beli.

Terbagi 3 jenis, yaitu murabahah (jual beli dengan untung), tauliyah (jual beli dengan harga modal), dan Muwadha’ah (jual beli dengan harga rugi);

5. Berdasarkan obyek yang diperjualbelikan.

Terbagi menjadi 3, yaitu muqayadah (barter), Mutlaq, dan Sharf (mata uang).

6. Berdasarkan waktu penyerahan barang/dana.

Terbagi menjadi 4 jenis, yaitu Ba’I bi thaman ajil (cicil), Salam (pesan), istishna (pesan), dan istijrar.

Apa syarat-syarat jual beli dalam islam?

Agar jual beli bisa dilaksanakan sah dan memberi pengaruh yang tepat, harus dilakukan sesuai dengan beberapa syaratnya. Ada yang berkaitan dengan pihak penjual maupun pihak pembeli, dan ada kaitan dengan objek/ benda yang diperjual-belikan.

Pertama: Yang berkaitan dengan pihak pelaku, harus memiliki kompetensi dalam melakukan aktivitas tersebut, yaitu dengan kondisi sudah akil baligh dan berkemampuan untuk memilih. Transaksi dinyatakan tidak sah bila dilakukan oleh anak kecil yang belum nalar, orang gila atau, orang yang dipaksa.

Kedua: berkaitan dengan objek jual belinya, yaitu sebagai berikut:

  1. Keberadaan barang tersebut harus tampak;
  2. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat;
  3. Dimiliki sendiri oleh penjual, tidak diperbolehkan menjual barang yang bukan dimiliki oleh penjual.
  4. Diserahkan langsung ketika akad;
  5. Harus suci, bermanfaat, bisa dise-rahterimakan, dan merupakan milik penuh salah satu pihak.
  6. Mengetahui objek yang diperjualbelikan dan juga pemba-yarannya, agar tidak terkena faktor “ketidaktahuan” yang bisa termasuk “menjual kucing dalam karung”, karena itu dilarang.

Dari segi shighat (ijab qabul) yang perlu diperhatikan adalah adanya kerelaan antara kedua belah pihak. Hal ini karena adanya kaidah muamalah yaitu an taradin minkum (suka sama suka/saling memiliki kerelaan).

Terkait dengan nilai uang/nilai tukar barang yang dijual ada lima hal yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Suci (Tidak boleh barang najis),
  2. Dapat diserahterimakan/dipindahkan,
  3. Ada manfaatnya,
  4. Dimiliki sendiri atau yang mewakilinya,
  5. Diketahui oleh penjual dan pembeli.

Bagaimana rukun jual beli dalam Islam?

Terkait dengan rukun-rukun jual beli paling tidak ada dua pendapat ulama. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun jual beli cukup ada satu saja yaitu ijab Kabul (shighat).

Adapun Jumhur Ulama menyatakan bahwa rukun jual beli paling tidak terdiri dari 4 hal, diantaranya:

  1. Aqidain (2 orang yang berakad baik pembeli maupun penjual),
  2. Objek Jual Beli,
  3. Ijab Kabul (shighat),
  4. Nilai tukar pengganti barang.

Baca Artikel Lainnya :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here