Pahlawan Nasional dari Papua “Frans Kaisiepo”

0
115
Pahlawan Nasional dari Papua
Pahlawan Nasional dari Papua "Frans Kaisiepo"

Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo

Kamu pernah melihat nama frans kaisiepo pada lembar uang sepuluh ribu rupiah. Tahukah anda bahwa ia pahlawan nasional dari papua yang memiliki peran penting dalam penyatuan Papua dengan Indonesia. Frans Kaisiepo adalah seorang pahlawan Nasional yag memilik peran penting dalam penyatuan Papua dengan Indonesia. beliau merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Irian Barat dengan penunh kebanggaan.

Sesosok pria yag lahir pada tanggal Oktober 1921 di Biak, Papua. mempunyai ayah yang sekaligus menjadi kepala suku di Biak numfor serta ayahnya ini menjadi ahli pandai besi didaerahnya.

Pahlawan Nasional dari Papua "Frans Kaisiepo"
pahlawan nasional frans kaisiepo

Malang nasib frans kaisiepo waktu kecil, ibunya meniggal pada saat ia berusia 2 tahun. kemudian frans keil pun diasuh oleh bibinya sampai tumbuh besar dengan sepupunya yang bernama markus.
Walaupun frans besar dikampung wardo yang terdapat pada pedalaman biak, ia beruntung dapat menempuh pendiidkan sekolah dengan sistem pendidikan Belanda.
Frans Kaisiepo bersekolah di sekolah rakyat pada tahun 1928 – 1931. setelah lulus, ia melanjutkan ke LVVS di korido hingga tahun 1934 kemudian sekolah guru Normalis di Manokwari.

Setelah lulus, ia sempat mengikuti sebuah kursus kilat sekolah pamong praja di kota nia Hollandia (sekarang kampung harapan jaya) selama bulan maret -agustus 1945. Di sekolah tersebut frans diajar oleh Soegoro Atmoprasiojo, seoran guru dari jawa yang sangat dipercaya oleh belanda tapi justru mengajarkan nasionalisme pada murid – muridnya.

Soegoro Atmoprasojo sendiri sebenarnya adalah aktivis dari partai indonesia (partindo) dan pengajar di Taman siswa bentukan Kihadjar dewantara. Pada tahun 1935 ia dibuang ke boven digoel papua karena dituduh terlibat dalam pemberontakan terhadap belanda.Dari soegoro inilah Frans dan teman temannya mengenal lagu Indonesia raya jauh sebelum gerakan papua merdeka muncul.

Pada tanggal 15-25 juli 1946 konferensi yang bertujuan untuk membentuk begara negara bagian di indonesia diadakan di Malino, sulawesi selatan, juga disebut dengan konferensi Malino. Frans ikut dalam konferensi tersebut sebagai wakil dari papua. pada konerensi tersebut ia menentang keras niat belanda yang ingin menggabungkan maluku dan papua masuk dalam bagian Negara Indonesia Timur (NIT)yang pada akhirnya negara indonesia timur hanya terdiri dari Maluku Sulawesi Bali dan Nusa tenggara. dan wilayah itu dalam kekuasaan belanda dan diberi nama Hollandia.

Dalam konferensi yang sama, frans juga mengusulkan agar pemimpin papua dipilih oleh kalangan sendiri dan mengubah nama papua menjad Irian. penggunan Irian seolah mengharapakan Irian bisa menjadi cahaya penerang yang mengusir kegelapan di indonesia.Namun dalam usulan tersebut tidak mendapat dukungan sama sekali baik dari pemerintah indonesia maupun belanda. Sejak kejadian itu mulai tahun 1946 tidak pernah ada perwakilan dari papua untuk konferensi apapun. dan sebagai hukuman Frans dikirim untuk bersekolah di Opleidingshool oor IN=nheemshe Bestuursambternaren (OSIBA) di belanda.

Baca juga : https://www.ktinpremium.id/prosedur-dan-syarat-jual-beli-tanah/

Pada tahuun 1962 atau 15 tahun setelah konferensi malino, Presiden Soekaro membentuk komando mandala untuk merencanakan memperisapkan dan menyelenggarakan operasi militer yang menggbungkan Papua dan Indonesia. dalam operasi tersebut diberi nama TRIKORA (Tri Komando Rakyat). Frans menyadari tujuan dibentuknya trikora tersebut, ia pun berusaha memberikan bantuan sebisa mungkin. Dan pada saat itu frans mendirikan sebuah partai bernama Irian Sebagian INdonesia (ISI), dan memberikan bantuan kepada sukarelawan indoneisa yang berada di mimika.

Pada tahun 1964, gubernur papua yang bernama Eliezer jan Bonay diturunkan dari jabatannya dan ditahan oleh pemerintah. sebagai gantinya Frans Kaisiepo dangkat menjadi gubernur papua. 5 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1969 di papua barat terdapat jejak pendapat untuk menentukan status daerah tersebut menjadi milik indonesia atau milik belanda. Dalam jejak pendapat tersebut disebut juga dengan penentuan pendapat rakyat “PEPERA”

Frans memiliki peran cukup penting, ia sering melakukan kampanye kedaerah daerah di papua dengan tujuan untuk beusaha meyakinkan para anggota dewan di daerah daerah tersebut untuk memilih bergabung dengan indonesia. Tak berhenti di papua, ia dipilih sebagai delegasi indonesia untuk menyaksikan pengesahan hasil PEPERA di Markas PBB di new york.

Setelah pensiun sebagai Gubernur Papua, Frans Kaisiepo diminta untuk pindah ke Jakarta oleh Pemerintah Indonesia. Di Ibukota lama Indonesia tersebut, ia diangkat menjadi Pegawai di Kementerian Dalam Negeri dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Selain itu ia juga diangkat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) untuk periode 1973–1979. Frans Kaisiepo wafat di jakarta pada 10 april 1979 akibat serangan jantung setelah dirawat bberapa hari dirumah sakit dijakarta.

Empat Belas Tahun berlalu, tepatnya pada Tanggal 14 September 1993, Pemerintah Indonesia akhirnya mengakui Jasa-jasanya untuk Indonesia.

Jangan lupa mampir di sini : https://www.ktinpremium.com/

Atas Jasa-jasanya, Frans Kaisiepo dianugerahi Penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.Selain itu, Namanya juga diabadikan menjadi Nama salah satu Kapal Perang TNI AL dan Bandara Internasional di Pulau Biak. Bahkan Pada Tahun 2016, Bank Indonesia merilis Uang baru nominal 10.000 dengan gambar Frans Kaisiepo di salahsatu sisinya.

Demikian lah sosok Pahlawan Nasional dari papua “Frans Kaisiepo” , sang Pengibar Merah Putih pertama di Tanah Papua.

Bagaimanapun juga, sudah sepantasnya kita semua berusaha mengenali dan menghormati setiap Pahlawan yang ada di Indonesia.